Senin, 04 April 2016

Anak anak masa kini


Pagi ini diawali dengan perbincangan singkat dengan seseorang (yang.tak.perlu.disebut.siapa.dia) yang bercerita bahwa dia harus berpatungan dengan orang tuanya untuk membiayai adiknya untuk ber-karya wisata ke Bali, ketika dia menyebutkan nominalnya saya kemudian berdecak..w.o.w

Memang berapa totalnya? Tanya saya karena dia menyebutkan bahwa dia berpatungan, bukan full dengan nominal yang dia sebutkan tadi. Dan ketika jawaban selanjutnya meluncur..saya kembali ber w.a.w.. itu lebih dari gaji saya sebulan (gaji ya, bukan THP, ehm..).

Teringat kemudian ketika di posisi yang sama saya lebih memilih karya wisata ke Bandung daripada ke Bali karena tidak mau merepotkan orang tua saya. Jelas, karena biaya yang harus dikeluarkan ke Bali sangat fantastis dalam ukuran saya kala itu, dan untuk ke Bandung saya yakin orangtua saya tidak akan keberatan.

Lalu saya teringat ketika waktu itu ketika saya dihadapkan pada dua pilihan, saya lebih memilih kuliah di STAN daripada di Farmasi UGM, padahal saya ingat-betul, sejak kelas 5 SD saya sudah bercita-cita kuliah di UGM, dan sejak kelas 6 SD saya berkeinginan menjadi apoteker. Ketika saya akhirnya harus melepaskan kesempatan yang telah saya dapat untuk mewujudkan impian masa kecil saya saat itu, saya memilih kuliah di STAN dengan spesialisasi akuntansi yang sama sekali tidak ada ketertarikan di dalamnya, tidak lain tidak bukan adalah karena saya tidak ingin merepotkan kedua orang tua saya dengan biaya kuliah yang tidak bisa dibilang sedikit, dengan segala tetek bengek buku, ongkos, praktikum, lab, ujian dan lainnya.

Kalah? Kalah dengan impian? Tidak…justru saya merasa menang, mampu mengalahkan ego saya dan mempertimbangkan yang lainnya. Apakah saya menyesal? Tidak sama sekali, mungkin saya tidak menikmati ilmu yang harus saya pelajari setiap harinya setelah itu. Namun saya yakin, yang saya jalani ini adalah rencana paling indah oleh sang pengatur skenario, sang Maha segalanya..

Yang saya ingat, keluarga saya bukan keluarga yang kekurangan, keluarga saya bukan keluarga yang berhambur kemewahan. Keluarga saya adalah keluarga kecil yang mengawali paginya dengan sarapan nasi putih hangat dan tahu tempe, terkadang dengan telor dadar dari 2 butir telur ayam yang dibagi menjadi 5, dan sekali dua kali menghabiskan malam dengan sepuluh tusuk sate yang dikelilingi 5 orang, bapak, ibu, mas, saya, dan adek.. keluarga saya adalah keluarga yang memiliki warung kecil di depan rumah, dan terpaksa harus tutup karena banyaknya tetangga yang berhutang-dan kemudian tidak membayar-. Keluarga saya bukanlah tipe yang memanjakan anak-anaknya, sejak kecil sudah terbiasa turun di dapur, mencuci baju masingmasing –kecuali bapak tentunya- dan saya ingat saat menginginkan sebuah mainan, dan setahun kemudian baru saya bisa memilikinya. Keluarga saya adalah sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga yang berstatus sebagai karyawan swasta, yang bahkan gaji terakhirnya tidak lebih banyak dari gaji pertama yang saya terima, dan kepala keluarga itu mampu menyekolahkan ketiga anak2nya, mengantarkannya sampai kehidupan mandiri masing-masing anak2nya..

Entah, saya hanya ingin terbang ke masa itu, dan mengamati dengan jelas bagaimana orang tua saya mendidik saya-mendidik anak-anaknya-sehingga saya-kami-bisa mengambil sikap seperti itu, dan kemudian menerapkannya kepada anak saya. Ya..berharap anak saya menjadi seorang sederhana, yang dengan sikapnya, bahkan mampu membuat matahari malu untuk menatap kesederhanaan yang terpancar dari parasnya..ah..itu hanya harap saya..

Dan ingatan saya melayang tentang impian saya sewaktu kecil.. makan seporsi sate hanya untuk saya sendiri, utuh, tidak dibagi dengan yang lain..


Sesederhana itu..dan kesederhanaan itu tak melulu bermuara pada ketidakmampuan untuk memenuhi keinginan..tidak..and you see it.