Pagi
ini diawali dengan perbincangan singkat dengan seseorang
(yang.tak.perlu.disebut.siapa.dia) yang bercerita bahwa dia harus berpatungan
dengan orang tuanya untuk membiayai adiknya untuk ber-karya wisata ke Bali,
ketika dia menyebutkan nominalnya saya kemudian berdecak..w.o.w
Memang
berapa totalnya? Tanya saya karena dia menyebutkan bahwa dia berpatungan, bukan
full dengan nominal yang dia sebutkan tadi. Dan ketika jawaban selanjutnya
meluncur..saya kembali ber w.a.w.. itu lebih dari gaji saya sebulan (gaji ya,
bukan THP, ehm..).
Teringat
kemudian ketika di posisi yang sama saya lebih memilih karya wisata ke Bandung
daripada ke Bali karena tidak mau merepotkan orang tua saya. Jelas, karena
biaya yang harus dikeluarkan ke Bali sangat fantastis dalam ukuran saya kala
itu, dan untuk ke Bandung saya yakin orangtua saya tidak akan keberatan.
Lalu
saya teringat ketika waktu itu ketika saya dihadapkan pada dua pilihan, saya
lebih memilih kuliah di STAN daripada di Farmasi UGM, padahal saya ingat-betul,
sejak kelas 5 SD saya sudah bercita-cita kuliah di UGM, dan sejak kelas 6 SD
saya berkeinginan menjadi apoteker. Ketika saya akhirnya harus melepaskan
kesempatan yang telah saya dapat untuk mewujudkan impian masa kecil saya saat
itu, saya memilih kuliah di STAN dengan spesialisasi akuntansi yang sama sekali
tidak ada ketertarikan di dalamnya, tidak lain tidak bukan adalah karena saya
tidak ingin merepotkan kedua orang tua saya dengan biaya kuliah yang tidak bisa
dibilang sedikit, dengan segala tetek bengek buku, ongkos, praktikum, lab, ujian
dan lainnya.
Kalah?
Kalah dengan impian? Tidak…justru saya merasa menang, mampu mengalahkan ego
saya dan mempertimbangkan yang lainnya. Apakah saya menyesal? Tidak sama
sekali, mungkin saya tidak menikmati ilmu yang harus saya pelajari setiap
harinya setelah itu. Namun saya yakin, yang saya jalani ini adalah rencana
paling indah oleh sang pengatur skenario, sang Maha segalanya..
Yang
saya ingat, keluarga saya bukan keluarga yang kekurangan, keluarga saya bukan
keluarga yang berhambur kemewahan. Keluarga saya adalah keluarga kecil yang
mengawali paginya dengan sarapan nasi putih hangat dan tahu tempe, terkadang
dengan telor dadar dari 2 butir telur ayam yang dibagi menjadi 5, dan sekali
dua kali menghabiskan malam dengan sepuluh tusuk sate yang dikelilingi 5 orang,
bapak, ibu, mas, saya, dan adek.. keluarga saya adalah keluarga yang memiliki
warung kecil di depan rumah, dan terpaksa harus tutup karena banyaknya tetangga
yang berhutang-dan kemudian tidak membayar-. Keluarga saya bukanlah tipe yang
memanjakan anak-anaknya, sejak kecil sudah terbiasa turun di dapur, mencuci
baju masingmasing –kecuali bapak tentunya- dan saya ingat saat menginginkan
sebuah mainan, dan setahun kemudian baru saya bisa memilikinya. Keluarga saya
adalah sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga yang
berstatus sebagai karyawan swasta, yang bahkan gaji terakhirnya tidak lebih
banyak dari gaji pertama yang saya terima, dan kepala keluarga itu mampu
menyekolahkan ketiga anak2nya, mengantarkannya sampai kehidupan mandiri
masing-masing anak2nya..
Entah,
saya hanya ingin terbang ke masa itu, dan mengamati dengan jelas bagaimana
orang tua saya mendidik saya-mendidik anak-anaknya-sehingga saya-kami-bisa
mengambil sikap seperti itu, dan kemudian menerapkannya kepada anak saya. Ya..berharap
anak saya menjadi seorang sederhana, yang dengan sikapnya, bahkan mampu membuat
matahari malu untuk menatap kesederhanaan yang terpancar dari parasnya..ah..itu
hanya harap saya..
Dan ingatan
saya melayang tentang impian saya sewaktu kecil.. makan seporsi sate hanya
untuk saya sendiri, utuh, tidak dibagi dengan yang lain..
Sesederhana
itu..dan kesederhanaan itu tak melulu bermuara pada ketidakmampuan untuk
memenuhi keinginan..tidak..and you see it.