Rabu, 30 Desember 2015

Jendela tua


Jendela itu semakin menua, menemani seorang wanita yang tak hentinya menatap rembulan di atas sana..

Dan jendela itu semakin menua, menyimpan rahasia yang tak pernah diungkapkan olehnya..oleh masa yang tak memberimu kesempatan untuk sekadar merangkai bahasa..

Kini..kau dapati jendela itu telah rapuh..karena angin desember sore ini, menerpanya tanpa lembut..
Jendela tua yang rapuh, yang masih menemanimu, memandang wanita itu, walau tanpa bahasa, tanpa retorika..

Dan jendela itu menutupimu..menghalangimu untuk tak lagi menekan rasa itu, karena hanya kalian yang tahu..seperti apa rasa itu..
Rasa sakit yang tak kunjung kau obati..meski hanya sekadar tawa ringan..atau kopi hitam yang tak pernah kalian sepakati seperti apa aromanya..

Jendela tua, dan kopi hitam, 
telah mengajarkanmu untuk tak menyesali pilihan, dan memberikanmu jalan untuk meninggalkannya, tanpa menoleh lagi..

Tapi mengapa kau tak mau berjalan ke sana tanpa tanpa?

Dan kau tahu..saat masa itu..masa yang ditunggu tak kunjung datang, dan dia..masih berdiri di samping jendela tua..dan kini..lihatlah!! dia berlari, mengejar rembulan yang kian menjauh, untuk mendapatkan kembali sinarnya, cahaya dalam samarnya..


Tutuplah jendela itu, sebelum desember yang kesekian kalinya ini… berakhir..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar