Jendela itu semakin menua, menemani seorang wanita yang tak
hentinya menatap rembulan di atas sana..
Dan jendela itu semakin menua, menyimpan rahasia yang tak
pernah diungkapkan olehnya..oleh masa yang tak memberimu kesempatan untuk
sekadar merangkai bahasa..
Kini..kau dapati jendela itu telah rapuh..karena angin
desember sore ini, menerpanya tanpa lembut..
Jendela tua yang rapuh, yang masih menemanimu, memandang
wanita itu, walau tanpa bahasa, tanpa retorika..
Dan jendela itu menutupimu..menghalangimu untuk tak lagi menekan rasa itu,
karena hanya kalian yang tahu..seperti apa rasa itu..
Rasa sakit yang tak kunjung kau obati..meski hanya sekadar
tawa ringan..atau kopi hitam yang tak pernah kalian sepakati seperti apa
aromanya..
Jendela tua, dan kopi hitam,
telah mengajarkanmu untuk tak
menyesali pilihan, dan memberikanmu jalan untuk meninggalkannya, tanpa menoleh
lagi..
Tapi mengapa kau tak mau berjalan ke sana tanpa tanpa?
Dan kau tahu..saat masa itu..masa yang ditunggu tak kunjung
datang, dan dia..masih berdiri di samping jendela tua..dan kini..lihatlah!! dia
berlari, mengejar rembulan yang kian menjauh, untuk mendapatkan kembali
sinarnya, cahaya dalam samarnya..
Tutuplah jendela itu, sebelum desember yang kesekian kalinya
ini… berakhir..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar